Beranda Berita Utama Pilbup Bolmong PDIP-PAN “Cerai”

Pilbup Bolmong PDIP-PAN “Cerai”

271
0
Logo PDIP-PAN

KotamobaguOnline.com, BOLMONG – Utak atik bakal calon Bupati dan wakil Bupati kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), semakin menarik saja. Pasca pendaftaran bakal calon oleh dua parpol besar, yakni partai Golkar dan partai Demokrat, sejumlah nama mencuat dan membuat peta koalisi maupun rencana “perkawinan” parpol dan kader di pilkada di daerah induk Bolmong Raya kembali diacak.

Besar kemungkinan, dua parpol pemenang pemilu sekaligus pilkada sebelumnya, PDI Perjuangan dan Partai Amanat Nasional (PAN) tidak akan lagi berkoalisi alias cerai. Calon petahana, Salihi Mokodongan (PAN) dan Yanni Tuuk (PDIP), harus melakukan lobi-lobi tingkat tinggi untuk bisa dipasangkan oleh kedua parpol melalui jalur koalisi. Sementara, perseteruan internal sejumlah kader PAN pasca dipimpin Sehan Landjar, sebagai ketua DPW PAN Sulut, sudah menjadi rahasia umum, menciptakan faksi-faksi khusus di internal. Salihi, diketahui loyalis Yasti Soepredjo dan Tatong Bara sebagai ketua DPW sebelumnya, kecil kemungkinan akan disetujui menggunakan kendaraan PAN. Pernyataan ketua DPC PDIP Bolmong, Yanni Tuuk, turut menguatkan spekulasi tersebut. “PDIP siap maju di pilkada Bolmong tanpa koalisi sekalipun. Apakah koalisi lama (PDIP-PAN) masih akan berlanjut, atau mungkin BERSATU jilid dua saja, namun kendaraannya diganti, itu kita tunggu saja proses selanjutnya,” ujar Yanni, beberapa waktu lalu.

Di pihak lain, prosesi pendaftaran bakal calon di Golkar dan Demokrat, memunculkan sekian nama politisi kawakan Bolmong. Sebut saja, Djelantik Mokodompit, Limi Mokodompit, Salihi Mokodongan, Abdul Kadir Mangkat, Sukron Mamonto, Farida Mooduto, Ichdar Damogalad, sebagai bakal calon Bupati. Kemudian nama-nama yang menghiasi bakal calon wakil Bupati yakni, Marten Tangkere, Aske Iroth, I Ketut Sukadi, serta Jefri Tumelap yang juga ketua DPC partai Demokrat Bolmong.

Ada pendapat yang mengatakan, kedua parpol ini akan memanfaatkan keretakan di tubuh PDIP dan PAN, untuk bisa mencuri perhatian masyarakat pemilih. “Jika calon petahana, yakni Salihi dan Yanni tidak maju bersama lagi, maka peluang keduanya akan direkrut Golkar serta Demokrat sangat besar. Ini juga bisa kita lihat di pendaftaran Golkar, di mana Salihi, turut mendaftar beserta bakal calon lainnya,” ujar Ahmad Algaus, pemerhati Bolmong.

Dia juga menilai, Golkar atau Demokrat bisa saja berkoalisi, kemudian mengambil petahana sebagai calon Bupati, kemudian memilih pendamping dari kader partai. “Kedua partai ini kalau legowo kemudian mengusung petahana sebagai papan satu (calon Bupati-red), ini merupakan tiket gratis untuk mengambil peluang sebagai pemenang pilkada karena incumbent sudah terlanjur dikenal masyarakat pemilih. Selebihnya mereka mengambil posisi wakil Bupati untuk menjaga soliditas partai dan menyeimbangkan kekuasaan. Saya kira cukup masuk akal untuk mencuri kemenangan dari PDIP dan PAN yang santer kabar sudah retak,” ujar salah satu aktifis ibukota Bolmong ini.

Ketua DPD PAN Bolmong yang belum lama terpilih, Musli Manoppo, beberapa waktu lalu mengungkapkan peluang diakomodirnya kader luar PAN untuk dijadikan calon Bupati. “Karena itu saya imbau kader partai untuk meningkatkan sosialisasi ke masyarakat agar mereka bisa mencapai puncak survey partai. Sudah jelas bahwa PAN akan mengutamakan survey internal untuk calon yang akan diusung,” kata Musli.

Statemen tersebut klasik, namun bisa jadi sinyalemen kuat bahwa Salihi Mokodongan, tidak akan lagi diusung oleh partai berlambang Matahari tersebut. Salihi sendiri, bukan nama baru di partai Golkar. Dia sempat menjadi pengurus parpol beringin lebat sebelum menjadi Bupati Bolmong periode 2011-2016.

Bagaimana dengan PDIP? Partai penguasa ini selain memiliki kursi penuh untuk mengusung calon, sejumlah kader potensial juga sudah disiapkan, termasuk mantan wakil Bupati Yanni Tuuk, dan ketua Dekab Bolmong, Welty Komaling. Konon keduanya disiapkan untuk posisi wakil Bupati. Siapa calon Bupatinya? Belakangan nama anggota DPR RI, Yasti Soepredjo Mokoagow, digadang-gadang menjadi calon andalan partai moncong putih. Kedekatan dengan Gubernur Sulut yang juga ketua DPD PDIP, Olly Dondokambey, ditambah perang dingin dengan partainya sendiri PAN, menjadi alasan kuat, turun tangannya politisi gaek ini. Kita tunggu saja hasilnya! (tim/mj)

Artikulli paraprakBRANI: Ansor Tolak Primordialisme
Artikulli tjetërIkatan Keluarga Minang (IKM) BMR Gelar Halal bi Halal

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.