Beranda Pencerahan Siapa Lebih Keras Berjuang, Rezeki Menemuimu atau Kau Menjemputnya?

Siapa Lebih Keras Berjuang, Rezeki Menemuimu atau Kau Menjemputnya?

14
0

KotamobaguOnline.com,Senin 28 September 2020.Setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik, semua orang di seluruh belahan dunia sibuk untuk mengejar rezeki. Pertama mari kita koreksi bersama, rezeki tidak harus dikejar. Karena kalau dia dikejar, otomatis bisa dapat bisa juga tidak. Contoh, mengejar ayam. Apakah ayam nya pasti dapat? Belum tentu. Bisa dapat bisa tidak.

Sama seperti rezeki pun demikian. Kalau ada yang mengatakan mengejar rezeki, maka bisa dapat bisa tidak. Padahal, apakah ada manusia bahkan semua makhluk di dunia ini yang tidak dapat rezeki? tentu jawabnya tidak.

Uang hanya sebagian kecil dari rezeki yang sering didefinisikan orang. Mata bisa melihat, rezeki. Hidung bisa mencium, rezeki. Kaki bisa jalan, rezeki. Telinga bisa mendengar, rezeki. Masih ada iman, rezeki besar. Masih ada napas pun rezeki. dan ada triliunan lagi rezeki yang bahkan sampai diilustrasikan seluruh ranting pohon menjadi pena dan lautan menjadi tinta, tidak akan mungkin bisa menuliskan tentang rezeki yang diberikan Allah, sang Pencipta kepada manusia dan seluruh makhluknya. Bagaiman sampai disini sudah oke ya..?

Jadi yang lebih tepat, rezeki itu tinggal kita jemput, karena esensinya ia sudah ada dan tersedia bahkan disediakan oleh Allah ,Tuhan Yang Pemurah Lagi Maha Penyayang. Nah, pertanyaan selanjutnya tentu saja adalah, siapa yang harus berjuang lebih keras untuk menemui, apakah rezeki menemui kita atau kita yang menemui rezeki? ini yang akan coba kita kupas dan menjadi bahan renungan kita sejenak di tengah kesibukan dunia yang katanya tiada habisnya.

Kau Menemui Rezeki

Oke, katakah lah kau kerja di kantor. Setiap pagi kau berangkat ke kantormu, lalu bekerja dengan baik dan di akhir bulan kau mendapatkan apa yang banyak orang sebut sebagai rezeki (bagian dari rezeki) yaitu gaji.

Mari kita lihat usahamu. katakan lah kau harus bangun pagi, mandi, dan berangkat ke kantor. Katakan lah habis waktu 1 jam dari persiapan sampai kau berangkat dan tiba di kantor. Oke, kita tambah lah menjadi 2 jam. Sepertinya cukup 2 jam. Asumsi persiapan 1 jam plus sarapan dan perjalanan 1 jam.

Jika kau melakukannya selama 5 hari dalam seminggu maka kau akan butuh waktu 10 jam untuk hal yang kau sebut dengan menjemput rezeki ini. Banyak? lumayan. Belum lagi dihitung 8 jam kerjamu dalam 1 hari, sehingga total 10 jam dalam 1 hari adalah waktu bekerjamu plus persiapan di pagi hari atau 11 jam jika ditambah dengan jam pulang kantor yang juga 1 jam.

Jadi total perjuanganmu menjemput sebagian rezeki dalam bentuk gaji itu adalah 11 jam perhari. Ini juga berlaku bagi pekerjaan lain dan silakan sesuaikan. Banyak? relatif. Nanti kau akan bisa memutuskan setelah tahu bagaimana perjuangan rezeki menemuimu.

Sekarang mari kita lihat perjuangan rezeki.
Rezeki Menemuimu

Kalau kita kupas semuanya, rasanya akan sangat tidak tidak berimbang (dengan dua kali pengulangan tidak). Saya akan mengambil contoh kecil saja, yaitu satu piring nasi (sebagai sampel dari sebagian rezeki yang menjumpaimu).

Apa isi satu piring nasimu hari ini? katakan lah isinya : Nasi, Ikan (plus garam,bawang,kecap), sayur kangkung. Mari kita lihat, Darimana berasmu berasal? Oke, katakan lah Cianjur. Dimana posisimu saat ini? Katakan lah Jakarta. Berapa lama waktu dari Jakarta ke Cianjur dengan jalur darat? Coba hitung sendiri. Normalnya pasti lebih dari 2 jam.

Dari mana ikan mu berasal? Dari mana garamnya berasal? dari mana bawangnya? mungkin brebes. Darimana kecapnya? mungkin dari jawa timur. Dari semua kota-kota itu, hingga akhirnya sampai di piring kita di meja makan kita di Jakarta, butuh total berapa jam kah menurut Anda? Saya sendiri tidak sanggup membandingkannya dengan perjuangan kita menjemput rezeki itu.

Apakah ada diantara kita yang masih berani mengatakan kalau usaha kita lebih besar dibanding usaha rezeki menemui kita?

Allah sudah mengatur semuanya sesuai dengan kehendaknya. Sampai bagian seperti ini pun sejatinya sudah diatur oleh yang Maha Kuasa. Apa yang kita lakukan (sadarilah) hanya sangat kecil (meski tetap harus dilakukan) di banding dengan usaha rezeki menemui kita.

Perbanyak syukur, kurangi kufur, karena apa yang kita lakukan, tidak lebih besar di banding dengan nikmat yang sudah diberikan Allah kepada kita. Ini masih contoh sepiring nasi, apalagi kalau kita sebutkan hal lainnya, maka kita akan semakin bertekuk lutut bersyukur dengan rezeki dari Allah yang diberikan kepada kita.

Kalau sudah begini, maka nikmat Tuhan mu mana lagi kah yang bisa Kau ingkari?

Semoga bermanfaat ( ditulis oleh Rabbana Motivator, kompasiana )

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.