Beranda Ekonomi & Bisnis Gula Aren Dan Gula Semut Desa Moyag Masih Terbaik

Gula Aren Dan Gula Semut Desa Moyag Masih Terbaik

8
0

Kotamobaguonline.com KOTAMOBAGU – Tumbuhnya ribuan pohon nira (Seho) yang mengelilingi pegunungan Ambang di Desa Moyag, dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membuat atau memproduksi gula semut dan gula batu atau dikenal dengan Gula Merah. Hal ini yang digeluti salah satu warga Desa Moyag Ungke Mamonto, pengrajin Gula Aren.

Dari hasil penuturanya, tidak mudah untuk mengumpulkan air nira tersebut, karena prosesnya harus dipilih terlebih dahulu untuk mendapatkan pohon nira mana yang buahnya telah matang sehingga siap untuk disaring airnya.

“Pertama dilihat buah niranya jika sudah sebesar kopi dan matang, barulah dipotong untuk dan dialirkan airnya kedalam sebuah penganan yang terbuat dari bambu, serta dipasang pagi hari dan diambil sore hari karena prosesnya seharian baru bisa penuh air niranya, begitu juga seterusnya dipasang malam hari dengan penganan bambu dan diambil pagi hari,” kata Ungke.

Ia pun mengatakan, setelah dimasak selama 2 hari barulah air nira akan mengental dan siap diproses menjadi gula batu atau dikenal di masyarakat kita dengan sebutan Gula Merah.

“Setelah itu dimasak dalam kuali yang terbuat dari Drom selama 2 hari dan siap dicetak menjadi Gula Batu disebuah tempurung,” terang Ungke.

Dari hasil pengolahan ini Ungke mampu membuat Gula Batu sebanyak 50 kilogram yang siap untuk dipasarkan dengan harga Rp.10.000 perkilogram. Ia pun mampu meraup Rp.500 ribu setiap Minggu.

Sementara, Pemerintah Desa (Pemdes) Moyag, melalui Sekertaris Desa, Maskur Gumalangit, mengungkapkan, para pengrajin gula batu akan dialihkan ke Gula Semut. Bahkan hal ini untuk memanfaatkan sebuah pabrik Gula Semut yang sudah berdiri di Desa Moyag.

“Ada sekitar 25 orang yang terbagi atas 5 kelompok yang nantinya akan dipekerjakan di Pabrik gula semut ini. Mereka adalah para pengrajin gula batu. Belum beroperasinya pabrik ini karena masih terkendala dengan akses jalan serta instalasi sumber air yang rencananya akan masuk aliranya ke pabrik ini,” kata Maskur.

Maskur juga mengungkapkan, para pengrajin gula aren hingga saat ini masih bekerja di tempat mereka masing-masing dengan kondisi peralatanya yang serba alami.

“Untuk sementara ini mereka masih bekerja ditempat masing-masing membuat gula batu. Nanti jika sudah beroperasi akan membuat Gula Semut. Dalam sehari satu orang itu akan memproduksi 10 Kilogram Gula Semut,” terang Maskur.

Lebih lanjut dikatakan Maskur, hasil dari gula semut yang nantinya akan diproduksi akan dijual dengan harga yang cukup murah dan dapat dijangkau masyarakat.

“Untuk harga gula semut perkilo Rp.25.000, nantinya jika sudah memproduksi secara normal maka kita akan kerjsama dengan pihak-pihak Indomaret dan Perhotelan,” tutup Maskur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.