Ada Apa Dengan Pilkada?

282 Viewed Eka Pratama 0 respond
Ada Apa Dengan Pilkada?

OLEH: Ridwan Lasamano

AWALNYA tulisan ini hanya akan dijadikan status di Facebook, namun mengingat berbagai pemberitaan bahwa aplikasi buatannya si Zucheberg ini akan diblokir, maka saya jadi ragu memposting, maka saya jadikan saja artikel, walaupun masih jauh dari urusan “Cerdas”.

Pilkada 2018 di ambang pintu. Tak bisa terhindari bhwa disitu ada pertarungan (walaupun ini bukan perang). Karena perang hanya untuk urusan menghancurkan.

Ada apa dengan Pilkada, kenapa mereka begitu mati-matian bertarung, siapa sebenarnya yang kan diuntungkan dengan “Pesta” Demokrasi ini. Pertanyaan ini mengganggu benak kalbu.

Pasangan Calon bersama dengan Mesin Politik dan Perangkat tarungnya tentu telah menyiapkan strategi untuk berkompetisi pada helat lima tahunan ini.

Siapa yg kan jadi objek tarung demokrasi ini, tak pelak adalah masyarakat konstituent.

Kita harus tahu bahwa tak semua Pemilih itu adalah massa fanatik, karena masa fanatik itu hanya terbatas pada Tim sukses, kalangan kepentingan,  entitas lain yang dalam berbagai pendekatan emosional dan pragmatis. Dan percayalah jumlah ini minoritas, (Yang banyak itu masyarakat Pemilih)

Tak semua pemilih menjadi fanatik, masih ada kalangan yang jarang dibicarakan adalah massa mengambang yang tidak tertarik pada hiruk pikuk Politik dan lebih sibuk urusan “Popoji” masing-masing.

Bisa jadi masih ada yang belum punya pilihan pasti, Pemilih emosional dan belum rasional. Pilihan bisa berubah-ubah sesuai pengaruh dari luar dan selera yang pragmatis.

Penentuan pilihan bisa saja bukan karena tertarik perihal Visi Misi kandidat berikut kualitasnya tapi cenderung “terpesona” oleh isu-isu pencitraan yang bias dan semu.

Di sinilah proses demokrasi berpotensi menjelma over demokrasi. Suatu keadaan di mana elemen-elemen demokrasi termasuk partai politik tumbuh melampaui batas-batas logika dan minim terhadap rasionalitas,

Padahal, Makna dan tujuan dari semua ini kedaulatan rakyat. Pasti keadaan ini takkan jauh berbeda dengan kondisi berlalu, karena sperti yang sudah-sudah pemilih dijadikan sebagai objek untuk mendulang  kemenangan sebanyak-banyaknya.

Dalam demokrasi mengenal yang namanya Vote Majority. suara tak ditentukan oleh Kualitas tapi Kuantitas. Itulah sebabnya kalangan tim pemenangan menerapkan berbagai strategi jitu untuk mendapat konstituen.

Dan karena berbasis kuantitas, maka jadinya Partai politik lebih melihat pemilih sebagai   kerumunan yang harus dimobilisasi.

Acapkali pemaparan visi misi tak terlalu penting, karena hal paling esensial adalah mobilisasi massa ke tempat tempat kampanye.

Bisa jadi pengenalan kandidat dengan segala kompetensinya tak lagi penjadi hal penting dan dipentingkan.

Maka acapkali terjadi mereka suguhan aneka rupa pertunjukan yang sama sekali tak memiliki korelasi dengan isu Pilkada apalagi urusan kesejahteraan.

Jika sudah begini faktanya, maka sesungguhnya demokrasi sedang bergerak mundur ke titik nol. Ketika kekuasaan telah diraih, diselewengkan untuk memenuhi libido berpolitik sebagian elit dengan melupakan konstituent.

Logika berpikir yang dipakai bukan lagi logika Negarawan tapi logika Komersial yang Bukan lagi mengabdi tapi invetasi kembali atas dana kampanye yang telah terlanjur dikucurkan.

Wallahu Alam Bissawab.

(*)

Don't miss the stories follow KOTAMOBAGUONLINE.COM and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Mantapkan Persiapan Debat, KPU Rapat Final Cek

Mantapkan Persiapan Debat, KPU Rapat Final Cek

67 SMP di Bolmong Laksanakan UNBK dan UNKP

67 SMP di Bolmong Laksanakan UNBK dan UNKP

Related posts
Your comment?
Leave a Reply