Beranda Bolmong Nelayan Tradisional Belum Merdeka

Nelayan Tradisional Belum Merdeka

343
0
Suasana Pagi di Pantai Bungin Kelurahan Inobonto Satu
Suasana Pagi di Pantai Bungin Kelurahan Inobonto Satu

Pagi itu, Selasa 25 Agustus 2020, langit terlihat sangat cerah. Ditemani kawan jurnalis David Sumilat, bersama-sama menyusuri perjalanan yang cukup jauh untuk mencari tambahan materi penulisan Feature tentang “Makna Kemerdekaan di Bumi Totabuan”.

Jujur, tambahan materi itu hanya bualan saja, karena pada dasarnya memang saya belum memiliki satu pun bahan materi tulisan untuk Feature. Kepedulian para senior dan sahabat sesama pewarta membuat otak yang tumpul ini termotivasi untuk ikut menuliskan Feature itu.

Tepat pukul 07.30 WITA, kami tiba di pinggiran pantai bungin Kelurahan Inobonto Satu, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).

Hangat matahari yang kian menyinari bumi membuat kami bergegas mencari tempat parkir kendaraan sepeda motor yang kami kendarai. Tiupan angin sepoi-sepoi sejenak menemani indahnya suasana di pagi itu.

Nafsu kelopak mata seketika puas melihat panjang bagunan pelabuhan PT Conch Nort Sulawesi Cemen yang kurang lebih 2000-an meter persegi, membentang keluar ke arah laut.

Hamparan derai ombak yang meninggalkan pinggiran pantai bungin di pagi itu, menyisahkan daratan pasir yang cukup luas. Seketika dari kejauhan kumpulan perahu nelayan yang tidak berlayar menambah semangat untuk menjajal daratan pantai di pagi itu.

Beberapa orang warga juga terlihat sedang beraktivitas memperbaiki perahu mereka yang sudah rusak. ditengah menyusuri daratan pantai bungin, terdapat beberapa tiang umbul-umbul merah putih masih berkibar erat di atas tiang bambu serta dua buah tiang gawang yang masih berdiri tegak.

Disekelilingnya selain kumpulan perahu, terdapat sebuah gubuk yang beralaskan pasir dan beratapkan daun kelapa. Terlihat sosok seorang lelaki yang sedang melakukan aktivitas dibawa gubuk tersebut.

Rasa penasaran dan semangat untuk bertanya pun semakin besar, Langkah pun perlahan mendekati gubuk itu. Tepat berdiri di depan tiang gubuknya, sembari memperkenalkan diri lalu bertanya. Ada kegiatan apa ya pak ? Kok tiang umbul-umbul merah putih dan tiang gawang masih terpasang rapih.

“Oohh… Itu sisa-sisa dari perayaan upacara dan kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan RI 17 Agustus kemarin,” sahut lelaki paruh baya yang duduk dalam gubuk itu.

Buang Ginoga (45) Sedang Menjahit Soma di Gubuk Sederhananya
Buang Ginoga (45) Sedang Menjahit Soma di Gubuk Sederhananya

Helayan benang nilon berwarna hitam, dimainkan begitu rapih oleh jemari tangannya. Sontak membuat sobekan-sobekan pada jaring ikan perlahan menyatu kembali seperti baru.

Jaring ikan atau “soma” sebutan para nelayan di Inobonto. Membuat adrenalin jurnalis terpacu untuk bertanya lagi tentang nama dan keseharian lelaki paruh baya itu. Meskipu sudah terlihat dari aktivitasnya bahwa lelaki itu adalah seorang nelayan.

Buang Ginoga (45) nama lelaki dalam gubuk itu, dia merupakan anak ke lima dari Almarhum Mat Ginoga (80) seorang nelayan tulen yang betul-betul mengantungkan hidup keluarganya dari hasil melaut, serta ibunda Sopia Paputungan (85) wanita kuat yang lelah melahirkan dan merawatnya. Saat ini juga masih bisa menghirup udara segar setiap pagi di pantai bungin itu.

Buang merupakan satu-satunya anak lelaki dari enam bersaudara. Meski sudah berkelurga dan memiliki dua orang anak, Buang tidak pernah mengeluh selama menggeluti profesinya sebagai nelayan.

“Kami memang nelayan asli, sudah turun-temurun dari Kakek dan orang tua saya,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Anak pertama Buang perempuan bernama Cici (25) paras cantik terhias seperti ibunya dan Fha’at (16) lelaki yang sudah tumbuh besar karena memiliki hobi makan.

“Ya, bersyukur Fha’at tidak mengikuti sifat saya dulu yang hobi mengkonsumsi miras, bahkan merokok saja dia tidak mau, tapi kalau soal makan dia jagonya,” ucapnya, sembari tertawa kecil menyusun benang nilon berwarna hitam yang biasa digunakan untuk menjahit soma yang sudah sobek.

Sebagai orang tua, niat Buang untuk menyekolahkan kedua anaknya hingga kejenjang perguruan tinggi sangat besar, namun harapan itu pupus ketika anak-anaknya lebih memilih berhenti sekolah dan ikut membantunya mencari rezeki di laut.

“Saya mau mereka sekolah tinggi agar kelak bisa menjadi orang hebat dan pintar serta bisa bekerja di kantoran,” ucapnya, sambil mencurahkan kekecewaan saat itu hingga memukul dan menggantung Fha’at di tiang pintu rumah agar mau sekolah lagi.

Alunan jemari kedua tangannya terus memasukan jarum khusus yang sudah terisih benang nilon berwarna hitam di antara celah-celah kecil sobekan soma itu. Cerita kisah nelayan pun dimulai dari sebuah tumpukan soma yang telah tersusun rapih.

Tumpukan soma itu berada tepat di sebelah selatan gubuknya. “Itu warisan ayah saya,” katanya, sambil menceritakan ingatan masa kecilnya dulu ketika masih anak-anak sering bermain bersama teman-temannya di atas tumpukan soma yang rapih di dalam perahu ayahnya.

Hanya bermodalkan alat tangkap ikan berupa soma, serta sebuah perahu sedang yang diapit dua buah mesin ketinting berukuran 5,5 pk. Pria berbadan mungil itu sudah sangat bersyukur karena bisa menghidupi keluarga kecilnya.

“Allhamdullillah… Andai saja saya tidak memiliki dasar tutunan nelayan asli, pasti soma, perahu dan mesin ketinting ini sudah terjual seperti para nelayan lain yang ada di sini,” ucap Papa Cici sapaan akrabnya, sembari mengatakan bahwa tidak ada bentuk warisan lain, selain soma tersebut.

Pembicaraan yang semakin menarik dan Panas terik matahari yang kian terasa, dirinya pun menawarakan kami sebuah tempat duduk bangku panjang di dalam gubuk itu. Terlihat alunan tangannya terhenti melakukan aktivitas menjahit soma yang sobek.

“Merokok”? Tawarnya, sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku celana. Ohh iya, sebelum mewarisi soma tersebut, Buang yang kesehariannya memang sudah nelayan, mencari ikan dengan cara menyelam.

“Lihat mata kiri saya, masih ada sisa-sisa bekas operasi katarak,” ajaknya sambil menunju ke arah kacamatan kiri yang yang sudah mengunakan lensa berdiameter tebal.

Sembari mendengar ceritanya, terlintas pertanyaan. Apakah di momen Hut ke-75 Kemerdekaan RI para nelayan yang ada di Indonesia khusunya di Kabupaten Bolmong sudah “MERDEKA” ?

Aktivitas Nelayan di Pinggir Pantai Bungin Kelurahan Inobonto Satu
Aktivitas Nelayan di Pinggir Pantai Bungin Kelurahan Inobonto Satu

Dari jeritan sepenggal kisah yang terdengar. Kesimpulan tentang “MERDEKA” bagi para nelayan khusus di Kabupaten Bolmong, itu tergantung pada hasil tangkapannya bukan bergantung pada janji…janji….janji…dan janji….

Iya, hal itu senada dengan cerita Buang yang keseharian sebagai nelayan tulen yang lahir di kelurahan inobonto Satu.

“Penghasilan kami tidak menentu, kadang banyak kadang sedikit,” ucapnya, sembari menambahkan tergantung dari jarak yang di tempuh dan ketepatan waktu turun melaut.

Menjadi nelayan bukanlah hal yang mudah, apa lagi bagi orang-orang yang tidak terbiasa. Mabuk lautan bukanlah seperti mabuk cinta, pukulan ombak yang terdengar melewati perut perahu serta tiupan angin yang datang tidak menentu, membuat banyak orang tidak mau menggeluti profesi nelayan ini.

Namun, berbeda lagi dengan Buang, sejak masih duduk di bangku kelas tiga SD dirinya sudah sering mengikuti ayahnya melaut.

“Iya, waktu itu setiap pulang sekolah saya selaluh ikut membatu ayah mendorong perahu dan manarik soma,” ujar Buang. Sembari menambahkan kala itu dirinya mengakhiri jenjan pendidikan di bangku kelas enam SD.

Buang yang kala itu masing berumur belasan, menceritakan jarak yang paling jauh dia tempuh selama menjadi seorang nelayan yakni 50 mil.

“Paling jauh itu, di lautan Sangkub, Bolaang Mongondow Utara (Bolmut),” tuturnya.

Bermodalkan alat penangkap ikan berupa soma, ketika melaut Buang tidak sendirian, dirinya selalu membawa teman yang beranggotakan tujuh orang. Modal melaut yang dibutuhkan saat itu pun bervariatif.

Jika hanya seputaran pesisir pantai utara, buang membutuhkan modal sekitar 50 sampai 100 ribu per hari, tapi jika keluar jauh hingga berminggu-minggu itu membutuhkan modal sekitar 300 sampai 500 ribu.

Bahkan, Buang berkata pernah keluar melaut sampai satu bulan lamanya. “Ya, hasilnya bisa jutaan hingga puluhan juta,” jelasnya, sambil melanjutkan kembali aktivitasnya menjahit soma.

Buang Ginoga (45) Sedang Menjahit Soma di Gubuk Sederhananya
Buang Ginoga (45) Sedang Menjahit Soma di Gubuk Sederhananya

Selama Buang mengunakan soma sebagai alat untuk menangkap ikan, dirinya tidak perna pulang dengan tangan kosong.

“Selalu ada hasil, kecuali somanya tidak dilepas/dipasang itu baru kosong, paling miris ya hasilnya 100 ribu,” katanya.

Dari semua pengalaman itu, Buang pun menceritakan satu kejadian yang tidak bisa dilupakan semasa hidupnya menjadi nelayan.

“Pada kejadian itu saya menangis,” katanya. Dirinya pun sempat trauma melaut selama 1 minggu pada waktu itu.

Kejadian waktu itu, bermula saat Buang bersama lima orang teman nelayannya pergi melaut mengunakan perahu yang berukuran cukup besar.

“Itu perahu saya yang pertama,” ungkapnya, sambil menambahkan bahwa waktu itu hasil tangkapan ikan mereka sangat banyak.

Dalam perjalanan pulang, Buang bersama lima orang temannya sangat senang, karena selain mendapatkan ikan yang banyak, mereka juga akan segera melepas rindu setelah tiga minggu berada dilautan.

Perjalanan yang kurang lebih berjarak lima mil dari pinggiran bibir pantai bungin dan dua mil dari pinggiran bibir pantai Desa Tuyat dan PT Conch North Sulawesi Cemen. Tiba-tiba perahu yang dikemudikan Buang dihantam angin dari utara hingga menyebabkan mesin tempel berukuran 8,5 pk, yang mendorong laju perahu itu mati.

Seketika suasana hati yang sedang bahagia gembira berubah manjadi kacau dan panik. Mengambang di atas lautan dalam posisi mesin yang rusak serta hantaman angin dari utara. menjadi sejarah hidup nelayan yang tidak akan pernah dilupakan Buang.

“Hantaman angin utara yang terus-menerus membuat perahu saya pecah dan terdampar di pinggiran pantai Desa Tuyat, semua hasil tangkapan kami hanyut tidak tersisa,” ungkapnya dengan nada sedih.

Suasana hati saat itu berkecamuk, Buang menangis sedih dan takut, karena kejadian seperti itu baru pertama kali dia rasakan selam menjadi nelayan.

“Yang tersisa dalam kejadian itu, tinggal puing-puing perahu yang terdampar dipinggiran pantai Desa Tuyat. Selain dari itu semuanya hanyut dan tengelam,” bebernya, sambil mengucap syukur karena tidak ada korban jiwa pada kejadian saat itu.

Seminggu berlalu, kisah kejadian itu masih kental teringan dalam benaknya. Dalam pikiran Buang bekecamuk dua pilihan antara mau melaut kembali atau tidak.

Lama-kelamaan Buang pun mulai sadar dan menyadari jika dirinya berhenti menjadi nelayan, siapa yang akan menafkahi keluarganya. “Saya memutuskan untuk melaut,” tegasnya, sambil mengatakan karena belum memiliki perahu, dirinya hanya mencari ikan di pinggiran pesisir pantai bungin.

Kisah nelayan tulen pantai bungin Kelurahan Inobonto Satu itu pun berlanjut. Meski hanya bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Buang tetap giat mencari ikan di pesisir pantai bungin.

“Ya, mau bagaimana lagi, untuk membuat perahu baru yang berukuran sedang saja butuh modal besar,” ujarnya, sembari melanjutkan cerita hingga dirinya bisa memiliki perahu lagi.

Saat itu memang keseharian Buang sebagai nelayan telah berubah drastis, biasa mengunakan perahu untuk mencari ikan, kini tidak bisa lagi. Dirinya binggung mencari pinjaman modal agar bisa membeli atau membuat perahu lagi.

Buang pun teringan kepada bosnya yang pernah menjadi langanan ketika dulu dia menjual hasil tangkapan ikannya.

“Akhirnya saya dapat modal untuk membuat perahu lagi,” ucapnya, sambil tersenyum karena dibantu oleh bosnya itu.

Perahu itu pun telah jadi dan Buang telah kembali melaut seperti biasanya, namun kali ini buang sudah sangat hati-hati. Belajar dari pengalaman, membuat buang tidak mau mengambil resiko.

“Ketika sedang melaut, saya selalu memperhatikan arah tiupan angin, jika membahayakan saya lebih memilih untuk berlabuh,” tandasnya, sambil menunjuk perahu berwarna hijau putih yang sedang mengapung dipingir pantai saat itu.

Feature ini merupakan dedikasi, arahan dan masukan dari para senior dan sahabat sesama Jurnalis. Terimakasih dari hati yang paling dalam saya ucapkan untuk Kakak David Sumilat, Kakak Artur Rompis, Kakak Iswahyudi Masloman, dan Kakak Indra SS Ketangrejo serta sahabat saya Indra Umbola.

 

Penulis: Jumrin Potabuga

Artikulli paraprakWali Kota: “Prestasi ini kebanggaan Masyarakat Kotamobagu”
Artikulli tjetërMasakan Ma Uni Gogagoman Masih Menjadi Masakan Paling Enak Dan Lezat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.