Beranda Berita Utama Mengenang Tokoh Militer Indonesia

Mengenang Tokoh Militer Indonesia

394
0
Letjen TNI Purn Ahmad Yunus Mokoginta

KotamobaguOnline.com – SOSOK Letnan Jenderal (Letjen) TNI (Purn) Ahmad Yunus Mokoginta atau biasa juga dikenal sebagai AY Mokoginta, lahir di Kotamobagu, 28 April 1921 – meninggal di Jakarta, 11 Januari 1984 dengan usia 62 tahun, adalah tokoh militer Indonesia yang juga menjadi salah satu penandatangan Petisi 50, Ia berasal dari keluarga aristokrat di Bolaang Mongondow (Bolmong), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Pada tahun 1926, ia hijrah ke Jawa mengikuti ayahnya, Abraham Patra Mokoginta, seorang Jogugu (Perdana Menteri) yang di asingkan oleh pemerintah kolonial Belanda, karena mendukung gerakan Serikat Islam di Kotamobagu, Sulut.

Pada masa perang Pasifik dia masuk Akademi Militer Breda di Bandung. Saat pendudukan Jepang dan masa-masa menjelang dan setelah Proklamasi, ia terlibat dalam gerakan pemuda.

Mokoginta bergerilya di Jawa Barat,  saat terjadi perang Revolusi. Pada saat itu ia menjabat staf perwira pada Brigade III Devisi Siliwangi, di masa itu dia juga pernah menjadi ajudan Jenderal Urip Sumuharjo. Setelah itu ia menjabat Komandan Polisi Militer Daerah Jawa, menggantikan Gatot Subroto, pada periode 1948-1950. Pada tahun 1949, ketika terjadi penyerahan kekuasaan dari Belanda ke Republik Indonesia, AY Mokoginta, dipiliih sebagai perwira yang bertanggung jawab atas Daerah Teritorial Indonesia Timur.

Penyerahan dilakukan secara langsung oleh Kolonel Schootborg, seorang perwira KNIL, pada tanggal 20 Juni 1950, dibentuk tujuh teritorium di seluruh Indonesia. Ia ditunjuk untuk memimpin Teritorium VII yang berkedudukan di Makassar dengan pangkat Letnan Kolonel.

Teritorium VII/Indonesia Timur membawahi wilayah Sulawesi-Maluku, yang  dan merupakan cikal bakal lahirnya Kodam VII Wirabuan.

Pada Agustus 1950 istilah Teritorium VII, diubah menjadi Tentara dan Teritorium (TT) VII. Saat itu Letkol AY Mokoginta, menyerahkan tongkat Komando kepada komandan baru AE Kawilarang.

Sebagai alumnus Akademi Militer Breda di Bandung (1941), dirinya pernah dipercayakan menjadi Komandan SSKAD pertama selang tahun 1951-1953, yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan Seskoad. Selain itu ia pernah dipercayakan menjadi ketua tim Panitia Doktrin Angkatan Darat. Tim ini merumuskan ideologi TNI dalam rangka menghadapi inflitrasi kekuatan asing dan ganguan dari dalam negeri. Bersama dengan Kolonel Soewarto, mereka menggodok SESKOAD sebagai lembaga yg mencetak perwira-perwira modern Indonesia.

Ia juga pernah menjadi Ketua Tim Perumus Kurikulum Pendidikan di Akademi Militer Magelang. Ia pernah juga bersama teman-teman seangkatannya seperti Jendral AH Nasution, TB Simatupang, AE Kawilarang, GPH Djatikusumo, Askari, Abdul Kadir, Rachmat Kartakusuma, Samsudarso. Mereka pernah terlibat dalam aksi-aksi militer menghadapi Agresi Militer II Belanda di Yogyakarta.(**)

Artikulli paraprakSehan Landjar Kukuhkan 33 Paskibraka Boltim
Artikulli tjetërBuku Kewarganegaraan Cover Garuda Menari Ditarik

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.