Beranda Berita Utama Jurnalisme dan Kebenaran

Jurnalisme dan Kebenaran

202
0

KotamobaguOnline.com – TRUE CRIME, film lawas ditayangkan tahun 1999 yang diperankan Clint Eastwood dan Isaiah Washington, adalah sebuah contoh bagaimana profesi seorang wartawan sangat berperan penting dalam menjaga keseimbangan serta menimbulkan rasa keadilan di masyarakat.

Film genre drama mistery crime ini mengisahkan tentang Steve Everett (Eastwood), seorang jurnalis senior di sebuah suratkabar ternama di New York Amerika Serikat. Dia mendapatkan tugas liputan human interest, sisi lain kehidupan seorang narapidana bernama Frank Louis Beechum (Washington), yang akan menjalani eksekusi mati, setelah divonis bersalah karena membunuh seorang wanita muda yang tengah hamil, kasir mini market di kota tersebut.

Kehidupan pribadi Everett, juga menjadi sorotan dalam film ini. Dia dikenal memiliki kebiasaan buruk sebagai alkoholik dan perokok berat, juga seorang play boy walau usianya tak lagi muda. Dia bahkan memiliki hubungan gelap dengan Michelle, istri teman kerjanya yang juga seorang wartawati. Everett, harus mendapatkan tugas liputan terhadap Beechum, sebagai pengganti Michelle, yang  meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Klimaks dari karir Everett, dia terancam dipecat dari kantornya dengan segala tindakan negatif dia yang sudah tak mendapat dukungan sesama rekan kerja, juga editornya. Tugas terakhir dia adalah, melanjutkan peliputan mendiang Michelle, kekasih gelapnya tersebut. Di sinilah dia mulai terlibat dalam investigasi kasus, yang ternyata memiliki sejumlah kejanggalan. Walau Beechum pasrah menjalani vonis, namun Everett menemukan kesimpulan bahwa dia tak bersalah. Ada pembunuh sebenarnya yang luput dari jangkauan aparat hukum. Film ini juga menggambarkan betapa kesenjangan sosial di masyarakat Amerika, serta rasisme, mempengaruhi tekanan sosial politik hingga menodai hukum di negara tersebut.

Dengan perjuangan keras, berhadap-hadapan dengan sejumlah pejabat hukum termasuk jaksa agung di kota itu, Everett, akhirnya bisa meloloskan Beechum dari eksekusi mati. Di saat-saat terakhir ketika tervonis warga Afro Amerika tersebut akan menjalani suntikan mati, Everett berhasil mendapatkan novum (penemuan bukti baru), sehingga eksekusi digagalkan. Beechum bisa menghirup udara segar, berkumpul lagi dengan keluarga tercinta.

Tugas mulia wartawan adalah menjadi penyeimbang serta mengentaskan ketidakadilan. Ini pula yang menjadi alasan, mengapa Bill Kovach dan Tom Rossentiel meletakkan sikap “Jurnalisme berpihak pada kebenaran” pada poin pertama Sembilan Elemen Jurnalisme, buku karya mereka tahun 2001. Jika kebenaran menjadi fondasi utama dalam jurnalisme, baik dalam tugas peliputan serta pembuatan berita hingga diterbitkan, maka rasa keadilan akan tetap terjaga utuh. Jauh dari sentuhan tangan-tangan kotor penguasa zalim dan manusia yang rakus kekuasaan serta pencitraan semata. Ketamakan manusia bisa menyebabkan perampasan hak dan kesewenang-wenangan. Karena itu, jurnalisme memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan di tengah masyarakat. Menyajikan fakta dalam sebuah berita, walau harus bertentangan dengan kekuasaan, adalah konsekwensi tugas seorang wartawan. Sedikit saja kita membelokkan fakta, bisa terjadi permasalahan besar yang akan merugikan banyak orang. Frank Louis Beechum, adalah korban ketidakadilan, politisasi, sentimen ras, dan ulah pejabat hukum yang tidak sudi mengedepankan fakta dalam proses peradilan. Namun dia terselamatkan oleh semangat jurnalisme yang tetap dijaga sepenuh hati oleh Steve Everett, walau kehidupan pribadi dia bukan seorang idola di masyarakat, bukan orang baik di mata banyak orang. Beberapa pihak yang merasa terganggu dengan investigasi Everett, sering mengancam untuk mengungkap perilaku negatif hingga membocorkan perselingkuhan lama dia. Alhasil, rumah tangga Everett di ambang perceraian. Menimbang permasalahan yang akan dia hadapi mendatang, apalagi orang yang dia perjuangkan sudah rela menerima keputusan hukuman mati, baik nampaknya bagi Everett untuk mundur dari kasus tersebut. Lagipula, dia tidak mendapat tugas untuk mengungkapkan, selain meliput sisi lain kehidupan sang napi selama di penjara. Namun wartawan gaek ini bergeming.

Baik belum tentu benar, namun tindakan benar hasilnya selalu baik. Inilah semangat jurnalisme.

Saya sebagai salah satu wartawan sekaligus pengelola media lokal di Kotamobagu, harus mengakui bahwa kebutuhan finansial dalam bisnis ini tidak terelakkan. Bukan cuma memperoleh keuntungan sebagai konsekwensi setiap usaha, biaya operasional perusahaan media adalah wajib hukumnya. Biaya cetak dan penayangan, membayar gaji para wartawan serta setiap insan yang terlibat di dalamnya, tidak bisa diabaikan. Hari ini, faktanya, kecil peluang media (terutama media cetak)untuk tidak berafiliasi dengan pemerintah (pemda). Sebagai pemilik anggaran, ada kewenangan pemerintah untuk mengucur biaya kerjasama kemitraan dengan media. Jumlahnya pun tak sedikit, hingga mencapai miliaran rupiah untuk satu daerah. Peluang ini pula yang dimanfaatkan para pebisnis, walau minim pengetahuan dan pengalaman sebagai jurnalis berani berspekulasi dengan bisnis media. Sah-sah saja, selama prinsip jurnalisme ini dijunjung tinggi, tak ada yang melarang.  Kemitraan dengan pemerintah juga bukan haram hukumnya. Tetapi, bukan berarti segala kebijakan harus diaminkan, penyelewengan hukum oleh aparat dinafikan. Ada hak-hak rakyat yang tetap harus dijaga, diperjuangkan jika penyelenggara negara abai. Media bukan corong penguasa, melainkan pembawa suara rakyat. Jurnalisme tetap wajib mengutamakan kebenaran, kendati pihak yang akhirnya dirugikan karena pemberitaan adalah mitra media. Jika salah, ada hak-hak rakyat yang dirampas, kenapa disembunyikan? Apalagi dibela? Media adalah milik rakyat. Jika dia melenceng dari semangat jurnalisme, maka bersiaplah untuk divonis rakyat. Kepercayaan akan hilang, apapun yang disajikan nanti akan dinilai sampah. “Saya harus berdiri dengan pihak yang benar, berdiri dengannya pada saat ia benar, dan berpisah darinya saat ia salah,”  kata Abraham Lincoln, negarawan masyhur, Presiden Amerika Serikat ke-16.

Andreas Harsono, jurnalis senior pejuang hak asasi manusia, menerbitkan buku “Agama Saya Adalah Jurnalisme”. Ini motivasinya ketika belajar langsung kepada Bill Kovach, guru sekaligus motivatornya. Belajar prinsip-prinsip jurnalisme dimana kebenaran menjadi fondasi utama, akan membawa kemashlahatan bagi umat manusia. Tuhan, kita yakini sebagai Yang Maha Benar. Maka kebenaran informasi, investigasi, memberikan hak konfirmasi dan klarifikasi, menjaga hak asasi termasuk menghormati privasi, yang tetap dijaga para jurnalis dalam melaksanakan tugasnya, adalah jalan menuju Tuhan. Wallahu ‘alam bi syawab. (*)

Penulis adalah wartawan sekaligus  pimpinan umum di www.kotamobaguonline.com dan surat kabar BMR NEWS.

Artikulli paraprakPemerintah tak Beri Ruang Bagi Gerakan Hak LGBT
Artikulli tjetërKongres AS Tahu Rencana Rusia Meretas DNC

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.