Beranda Ekonomi & Bisnis Penyelesaian Sengketa Kredit Macet

Penyelesaian Sengketa Kredit Macet

217
0

Pengertian Kredit Macet

Pada nasabah telah memperoleh fasilitas kredit dari bank tidak seluruhnya dapat mengembalikan utangnya dengan lancar sesuai dengan waktu yang telah di perjanjikakn. Pada kenyataanya di dalam praktik selalu ada sebagian nasabah yang tidak dapat mengembalikan kredit pada bank yang telah meminjamnya. Akibat nasabah tidak dapat membayar lunas utangnya, maka akan tergambar perjalanan kredit menjadi terhenti atau macet.

Hanafi Tomy Sako
Hanafi Tomy Sako

Keadaan yang demikian apabila di tinjau dari segi hukum perdata di sebut wanprestasi atau igkar janji. Sebagaimana telah di ketahui bahwa pemberian kredit merupakan perjanjian pinjam-meminjam uang dan prestasi. Apabila debitur tidak dapat membayar lunas utangnya setelah jangka waktu pengembalian tersebut terlewati, maka perbuatanya di sebut perbuatan wanprestasi.

Dari segi macam-macamnya terdapat 5 macam yang di kenal selama ini, adalah:

  • Debitur tidak melaksanakan sama sekali apa yang telah di perjanjian,
  • Debitur melaksanakan sebagian apa yang telah di perjanjikan,
  • Debitur terlambat melaksanan apa yang telah di perjanjikan,
  • Debitur menyerahkan sesuatu yang tidak di perjanjikan, atau
  • Debitur melakukan perbuatan yang di larang dalam perjanjian.

Apabila macam-macam wanprestasi tersebut di hubugkan dengan kredita macet, maka ada 3 macam perbuatan yang tergolong wanprestasi, yaitu:

  1. Nasabah sama sekali tidak dapat membayar agsuran kredit (beserta bunganya)
  2. Nasabah membayar sebagian agsuran kredit (beserta bunganya). Pembayaran agsuran kredit tidak di persoalkan apakah nasabah telah membayar sebagian besar ata sebagian kecil agsuran, tetap tergolong kreditnya sebagai kredit macet. Soal bank melepaskan haknya, hal itu soal lain.
  3. Nasabah membayar lunas kredit (beserta bunganya) setelah jangka waktu yang di perjanjikan berakhir. Nasabah terlambat membayar lunas utangnya. Hal ini tidak termasuk nasabah membayar lunas setelah perpanjangan jangka waktu kredit yang telah di setujui  bank atas permohonan nasabah, karena telah terjadi perubahan perjanjian  yang di sepakati bersama. Jadi yang dimaksudkan tidak pernah terjadi perubahan perjanjian sedikit pun. Keadaan di atas dapat terjadi, setelah bank mengambil lagkah untuk menyelesaikanya ke pengadilan, nasabah bersagkutan baru bersedia membayar lunas kreditnya, karena nasabah merasa  khwatir apabila dirinya di hukum secara perdata oleh pengadilan akan mengakibatakn kepercayaan masyarakat menjadi berkurang.

Dari uraian pembahasan di atas kredit macet dapat di beri pengertian, adalah kredit atau utang yang tidak dapat di lunasi oleh debitur karena sesuatu alasan sehingga bank selaku kreditur harus menyelesaikan masalahnya kepada pihak ke tiga atau melakukan eksekusi barang jaminan.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kredit Macet.

Terjadi kredit macet ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor yang berasal dari nasabah dan yang berasal dari bank. Bank sebagai krerditur tidak terlepas dari kelemahan yang di  miliki. Faktor ini tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berkaitan dengan nasabah.

  1. Faktor yang berasal dari nasabah.
  2. Nasabah menyalagunakan kredit

Setiap lredit yang di peroleh nasabah telah di perjanjikan dalam perjanjian kredit tentang tujuan pemakaian kreditnya. Dengan telah di perjanjikan demikian, maka nasabah telah menerima kredit wajib mempergunakan sesuai dengan tujuannya tersebut. Pemakaian kredit  yang menyimpang dari pemakaianya, akan mengakibatkan nasabah tidak mengembalikan kredit sebagaimana mestinya. Sebagai contoh nasabah di beri kredit untuk kepentingan pengangkutan karena sahanya dalam bidang agkutan bus luar kota, tetapi nasabah menggunakan kredit  untuk kepentingan pertanian dengan membeli bibit bawang merah. Ketika gagal panen tidak dapat membayar pelunasan kredit.

Nasabah kurang mampu mengelola usahanya.

Nasabah yang telah menerima fasilitas kredit, ternyata dalam praktek tidak mengelolah usaha yang di biyayai dengan kredit bank. Nasabah tida profesional dalam melakukan pekerjaan karena kurang menguasai secaara teknis usaha yang di jalankanya. Akibatnya hasil kerja kurang maksimal  dan kurang berkualitas sehingga mempengaruhi minat masyarakat dalam mengonsumsi produk yang di hasilkanya. Keadaan ini mempengaruhi peghasilan nasabah tidak mengembirakan, sehingga berpegaruh pula terhadap pelancaan pelunasan kreditnya.

Nasabah bertikad tidak baik

Ada sebagian nasabah yang mugkin jumlahnya tidak banyak yang sengaja dengan segala daya upaya mendapatkan kredit Ada sebagian nasabah yang mugkin jumlahnya tidak banyak yang sengaja dengan segala daya upaya mendapatkan kredit  di peroleh di gunakan begitu saja tanpa dapat di pertangung jawabkan. Nasabah ini sejak awal memang sudah tidak bertikad baik, karena tujuanya jahat yaitu untuk membobol bank. Biasanya sebelum kredit jatuh tempo nasabah sudah melarikan diri. Contonya adalah eddy tanzil dalam kasus bapindo, denga kredit macet  triliunan rupiah yang di kucurkan berdasarkan data-data fiktif.

Faktor yang berasal dari bank.

Bank juga dapat sebagai salah satu penyebab terjadinya kredit macet. Dalam memberikan kredit kepada nasabah, bank selalu membuat pertimbangan atau analisis yang elah di tetapkan UU perbankan. Tidak akuratnya pertimbangan bank akan menjadikan kredit yang di berikan nasabahnya akan berjalan tudak sesuai dengan yang di harapkan.

Kualitas pejabat bank

Setiap petugas atau pejabat bank manapun di tuntut untuk melaksanakan pekerjaanya secara profesional sehingga dapat tercipta pelayanan terhadap masyarakat yang memadai. Meskipun demikian tidak semua pejabat bank yang kurang profesional tentu sulit di harapkan dapat memperoleh hasil kerja yang maksimal. Bterutama pejabat di bagian kredit, kualitasnya dapat mempengaruhi keputusan penyaluran kredit yang tidak sebagaimana mestinya. Sebagai contoh adalah kasus Neloe dalam perkara korupsi di BNI di mana permohonan kredit triliun dapat di setjui dalam satu hari. Bemudian kasus Towil Heryoto dalam perkara korupsi di bapindo, pengucuran kredit dengan di dasarkan data-data fiktif.

Persaingan antarbank

Jumlah bank makin hari jumlahnya makin banyak, hal ini merupakan hal yang wajar, dengan jumlah penduduk yang bertambah mempengaruhi jumlah kebutuhana terhadap bank bertamba pula. Dengan bertambahnya jumlah bank maka akan mempengaruhi persaingan bank akan semakin ketat.

Dalam melakukan persaingan usaha, setiap bank selain berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat, termasuk kemudahan di dalam memberikan fasilitas kkredit. Dengan pelayanan yang terbaik tujuanya ntuk mendapatkan nasabah sebanyak-banyaknya dan nasabah yang telah ada tetap digandenga agar tidak pindah ke bank yang lain.

Dengan adanya persaingan usaha yang ketat, akan mempengaruhi bank untuk bertindak spekulatif dengan cara memberikan fasilitas yang mudah kepada nasabah, tetapi di lain pihak lagkah yang di ambil bank telah mengabaikan prinsip-prinsip perbankan yang sehat. Pada awal tahun 1990-an bank berkembang bagaikan cendawan di musim hujan karena pakto 1988 memberi kemudahan mendirikan bank, kemudian pada tahun 1996 telah terjadi likuidasi terhadap 16 bank, sala satu penyebabnya adalah persaingan bank yang ketat.

Hubungan interen bank

Kredit macet juga dapat terjadi karena bank terlalu memperhatikan hubungan ke dalam bank, penyaluran kredit tidak merata dan lebih cenderung di berikan kepada pengurus dan pengawas  serta pegawai bank. Seperti di katakan J.B Surmalin ketika menjadi menteri keangan, bahwa pada tahun 1992 kredit macet yang terjadi di bank pemerintah karena pemilik bank menkmati fasilitas kredit yang melampawi batas yang di tentukan (batas maksimum pemberian kredit)

Di samping itu bank juga lebih mengutamakan hubungan dengan perusahaan-perusahaan yang masi dalam kelompoknya (induk perusahaan, anak perusahaan) dalam pemberian kredit. Ibarat kelompok perusahaan itu sebuah keluarga, bank merasa terikat dengan snak keluarganya. Secara yuridis masing-masing persahaan dalam kelompok berdiri sendiri-sendiri, namun dari segi ekonomi mereka satu kesatuan/ bank merasa tidak enak apabila keluarganya butuh uang atau keadaannya sedang sakit (keuangan perusahaan tidak sehat) tidak di bantu dengan fasilitas kredit, sehingga tidak/kurang meghiraukan ketentuan BMPK. Akibatnya apabilah kreditnya bermasalah berpengaruh kepada bank yang krang berani bertindak tegas.

Pengawasan bank

Mulai dari proses pemberian kredit terjadinya perjanjian kredit selalu mendapat pengawasan. Pekerjaan bank di awasi oleh pengawas interen bank dan pengawas eksteren yaitu BI, dan BPKP khusus  untuk bank milik negara.

Adanya bank yang tidak sehat atau bank terkena likuidasi tidak dapat di lepaskan dari kredit macet sebagai penyebabnya. Sala satu faktor terjadinya kredit macet  adalah karena lemahnya pengawasan terhadap bank. Adanya belasan bank yang di likuidasi dan kemudian dalam UU BI di atur pengawasan bank di serahkan kepada lembaga pengawas yang independen secara tidak langsung menunjukan telah terjadi lemahnya pengawasan BI terhadap bank.

Artikulli paraprakTahun Ini Pariwisata Di Kotamobagu Mulai ‘Digairahkan’
Artikulli tjetërInilah Daerah Yang Dilarang Rekrut CPNS 2016

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.