Beranda Perbankan 8 Bank Jadi Perintis Perbankan Berkelanjutan

8 Bank Jadi Perintis Perbankan Berkelanjutan

260
0
Muliaman D Hadad (Foto : skalanews.com)

KOTAMOBAGU ONLINE – Sebanyak delapan bank berkomitmen menjadi perintis untuk perbankan berkelanjutan. Hal itu dilakukan melalui Proyek Percontohan (Pilot Project) kerja sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan WWF-Indonesia bertajuk Langkah Pertama untuk Menjadi Bank yang Berkelanjutan. Kedelapan bank itu yakni Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, Bank Muamalat, BRI Syariah, BJB, serta Bank Artha Graha Internasional.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, komitmen itu merupakan langkah besar yang diambil para bank, kurang dari setahun setelah diluncurkannya Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan oleh OJK pada 5 Desember 2014. Tujuan proyek percontohan adalah mendukung persiapan kompetensi bank menuju sasaran dalam Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan di Indonesia periode 2014-2019.

Kompetensi yang disasar secara khusus, kata dia, adalah kemampuan organisasi dalam mengelola aspek Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (LST) dalam keputusan bisnisnya. “Juga untuk meningkatkan porsi pembiayaan ke kegiatan bisnis yang dilakukan secara berkelanjutan,” jelasnya dalam seminar bertajuk Sustainable Finance to Support Sustainable Development Goals, di Jakarta, Senin (23/11).

Muliaman berharap komitmen delapan bank yang mewakili 46 persen aset perbankan nasional itu dapat mendorong bank dan lembaga jasa keuangan lainnya mulai menerapkan keuangan berkelanjutan di Indonesia.

CEO WWF Indonesia, Efransjah, menyatakan, melalui komitmen bank dalam mengelola dan menerapkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, bank turut mengambil peran untuk meningkatkan profil kinerja perusahaan di Indonesia. Bank akan memiliki kekuatan untuk mendorong perusahaan kliennya menerapkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola ini dalam proses bisnis mereka secara menyeluruh.

Proyek percontohan ini, jelasnya, menyediakan ruang dialog yang kondusif bagi praktisi perbankan berkelanjutan dengan melibatkan para ahli dan praktisi perbankan. “Serta pelaku usaha industri untuk bertukar keahlian dan pengalaman,” paparnya.

Selanjutnya, OJK bersama WWF akan mendampingi delapan bank itu untuk menerapkan keuangan berkelanjutan secara sistematis dengan mengambil contoh kasus di sektor kelapa sawit. Pendampingan tersebut akan berjalan selama 1,5 tahun pada Januari 2016.

Deputi Direktur Arsitektur Perbankan Indonesia OJK Edi Setijawan menambahkan, sektor kelapa sawit dipilih karena kerap diasosiasikan dengan isu lingkungan. “Bank dapat mengambil peran dalam memperbaiki profil industri ini agar komoditas ini dapat terus menjadi andalan ekonomi nasional,” ungkapnya.

Nantinya, bank peserta akan mendapat serangkaian pendampingan teknis meliputi identifikasi profil risiko LST bank dari berbagai sektor dan bagaimana mengembangkan kerangka memitigasi risiko LST.

Proses tersebut juga sekaligus memanfaatkan peluang-peluang yang teridentifikasi melalui diskusi terbatas dengan para ahli perbankan serta pelaku industri.

OJK bersama WWF juga telah mengembangkan buku panduan yang berjudul Integrasi Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola: Panduan Untuk Memulai Implementasi bagi Bank. Buku tersebut akan menjadi bekal persiapan regulasi keuangan berkelanjutan di tahun 2016.

Selain terhadap industri perbankan, OJK juga menjajaki pengembangan green bond/green sukuk dan asuransi lingkungan hidup pada industri pasar modal. Pasar green bond secara global terus berkembang. Pada 2013, jumlah green bond yang diterbutkan senilai 11 miliar dolar AS. Sedangkan, hingga pertengahan 2015 ini, Outstanding Green Bond Global telah mencapai 65,5 miliar dolar AS.

Sumber : (Republika.co.id)

Artikulli paraprakGelang Garpu Lagi Hits di Kalangan Chef
Artikulli tjetërDPRD Kotamobagu Tuding Pemkot Tak Perhatikan Kesehatan Masyarakat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.